WARREN BUFFET
ORACLE Of
Pria kelahiran 30 Agustus 1930
Warren Buffet memulai investasinya hanya dengan uang sebesar 100 dolar AS pada akhir dekade 50-an dan ia bisa meroketkan modalnya dari menjadi 51 juta dolar AS pada Mei 1999. Forbes, majalah ekonomi kelas dunia, pada 2005 menempatkan Buffett sebagai pengusaha terkaya kedua di dunia setelah William Gates alias Bill Gates pemilik Microsoft.
Perjalanan karier suami almarhumah Susan Buffett di pasar modal sungguh panjang. Setelah menempuh studi untuk mendapat gelar master di Columbia Graduate Business School, pada 1951-1954, Buffett bekerja sebagai salesman investasi di Omaha.
Sesudah itu, pria yang mendapat gelar kehormatan The Sage of Omaha (Orang Pandai dari Omaha) dari warga Kota Omaha, pindah ke New York untuk bekerja sebagai analis sekuritas di Graham-Newman Corporation. Buffett tak lama bekerja di perusahaan milik Benjamin Graham, salah seorang yang dianggap Buffett sebagai maha guru pasar modal. Sebab pada 1956-1969 bermodalkan US$ 100 dia mengelelola dana milik orang-orang kaya Nebraska di Omaha. Perusahaan investasi yang sukses itu akhirnya dijual dan dibubarkan.
Para investornya tersenyum puas karena rata-rata mengantongi keuntungan 30,4 persen per tahun.Di tengah menjalankan fungsi sebagai manajer investasi itu, pada 1965 Buffett membeli Berkshire Hartaway. Perusahaan yang bergerak di bidang tekstil ini, dijual oleh pemiliknya karena pendapatannya terus merosot. Buffett menjadikan perusahaan tersebut kendaraan dalam setiap saham perusahaan lain.Di tangan Buffett, perusahaan itu terus meroket. Selama lebih dari 34 tahun para pemegang saham memperoleh tingkat pengembalian tahunan sekitar 24,7 persen. Ini berarti, siapa saja yang menanam 10 ribu dolar AS pada 1965,maka nilai kekayaannya menjadi 51 juta dolar AS pada 1999.
Warren Buffett ternyata adalah orang yang senang belajar dan menghargai gurunya. Ia mengaku dirinya adalah murid dua investor kondang: Benjamin Graham dan Philip Fisher. Dua orang yang dianggap sebagai maha guru oleh Buffett memiliki karakter investasi yang berbeda.
Benjamin Graham terkenal dengan strategi investasi nilai (value investing), yaitu kombinasi strategi pemilihan saham berdasarkan analisis fundamental terhadap posisi keuangan perusahaan dan dan strategi diversifikasi. Secara khusus strategi Graham menekankan kriteria kuantitatif untuk mencari saham yang harga pasarnya jauh lebih murah ketimbang harga wajarnya (wajar menurut perhitungan kuantitatif tersebut). Berbeda dengan Graham, Philip Fisher lebih mengandalkan kriteria kualitatif tentang faktor kunci penentu kesuksesan perusahaan seperti kualitas tim manajemennya, bagaimana cara perusahaan tersebut dikelola. Buffett melihat, ada kesamaan dari kedua orang pakar tersebut. Keduanya sukses dan sama-sama berpikir jangka panjang untuk setiap investasi. Graham misalnya menganjurkan agar investor memilih saham yang layak dipegang, meski pun pasar saham mendadak tutup besok. Sedangkan Fisher memberi contoh lewat cara dia memegang saham Texas Instrument, yang dibeli sejak awal perusahaan tersebut melakukan private placement.
Buffett sang brilian, mencoba menggabung strategi Graham dan Fisher. Sebelum menentukan pilihan, dia akan meriset perusahaan tersebut secara detail, mulai dari sisi bisnis, manajemen, finansial dan pasar. Dengan dasar riset tersebut Buffett mengerti benar tentang perusahaan-perusahaan yang hendak dibelinya. Belilah perusahaan sederhana dan mudah dipahami. Kinerja masa lalunya konsisten dan memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan, pesannya kepada para investor.
Paham investasi itu diterapkan oleh Buffett ketika membeli saham Coca-Cola, Gillete, dan Walt Disney. Coca-Cola perusahaan yang paling disukai oleh Buffett, karena memiliki merek dagang yang sangat kuat dan menguasai pangsa pasar dominan.
Ketiga korporasi andalan Buffett memang bernasib sial pada 1998. Tapi, itu bukan berarti habis. Waktu memilih Coca-Cola, Buffett bukan tidak melihat bahwa akan ada pesaing yang muncul kemudian. Justru ia berasumsi, dengan munculnya produk baru, maka para pemasar Coca-Cola akan semakin gencar memasarkan produknya. Minimal akan mempertahankan pangsa pasar. Selain itu, manajemen keuangan akan mampu mengoptimalkan laba.
Inti dari semua itu, Buffett lebih berpikir tentang investasi jangka panjang, pada saham-saham perusahaan yang produknya dikenal dengan baik. Alasan itu pula yang membuat ia tidak pernah mau membeli saham Microsoft. Padahal semua orang kini melihat ekspansi Microsoft di dunia ini. Ketergantungan pengguna komputer terhadap Microsoft begitu tinggi, barangkali mirip dengan apa yang dilakukan Coca-Cola. Tapi sekali lagi, meski pun Bill Gates pemilik Microsoft adalah sahabat dekat Buffett, tapi ia tak berminat membeli saham Microsoft. Buffett tak memahami produk tersebut. Perlu dicatat juga, Buffett tidak pernah menerapkan prinsip beli saham, tapi membeli bisnis (buying a business not share). Misalnya, terhadap Coca-Cola yang jatuh pada 1998-1999, ia tetap bersandar pada tren jangka panjang. Menurut asumsinya, setelah penurunan itu Coca-Cola bukan hanya akan memperbaiki kinerjanya.
Kondisi mutlaknya, manajemen harus memenuhi tiga syarat. Pertama, mereka harus rasional. Kedua terbuka kepada pemegang saham. Ketiga, menolak untuk meniru praktik dan kebijakan manajemen perusahan lain, tanpa memedulikan kesesuaian nalar. Sikap berpikir jangka panjang itu pula yang membuat ia kerap melawan apa yang terjadi di pasar. Menurutnya pasar muncul setiap hari dan menawarkan pada harga berapa Anda membeli dan menjual. Harganya berubah-ubah tak menentu. Pasar bertugas melayani Anda bukan membimbing Anda. Kejutan-kejutan bukan hanya ditunjukkan Buffett lewat model investasinya di pasar modal. Itu juga terjadi dalam kehidupan pribadinya.
Beberapa pekan lalu, kita dibuat tercengang dengan keputusannya untuk menyumbangkan 85% dari harta yang dimiliki. Diperkirakan sekitar 37, 4 miliar dolar AS(sekitar 340 triliun rupiah) yang semuanya berbentuk saham di Berkshire Hathaway Inc., kepada Gates Foundation, yang dikelola Gates dan Melinda, istrinya. Yayasan ini mendedikasikan kegiatannya untuk memberantas kemiskinan dan memajukan pendidikan di negara dunia ketiga. Tidak ada alasan lain bagi Buffet untuk menyumbangkan hartanya itu selain pesan istrinya. Sebelum meninggal, istrinya memang sempat memberikan amanat agar ia mau membagikan kekayaannya kepada orang yang membutuhkan.
Kemampuan Warren Buffett memilih saham yang bernilai di bawah harga pasar, merupakan bukti hidup yang mengagumkan. Beberapa ahli mengatakan, kemampuan itu sekaligus menjadi bukti kegagalan teori akademis yang meyebutkan bahwa pasar bersifat efisien. Artinya harga saham berkait erat dengan informasi yang beredar di publik tentang perusahaan terkait. Menurut Buffett, pasar kerap salah menentukan harga. Pasalnya harga pasar kerap ditentukan oleh emosi para investor. Padahal emosi para investor bersifat jangka pendek, sementara dalam jangka panjang pasar justru akan mengikuti fundamental perusahaan.
Paling sedikit ada tiga karakteristik penting kunci sukses investor yang dikemukan Buffett seperti ditulis dalam buku karangan Robert Hagstrom Jr. - The Warren Buffett Way (Cara Warren Buffett), yaitu :
1. Kemampuan menahan emosi (ketakutan dan keserakahan)
Buffett selalu membeli perusahaan yang bisnisnya sederhana dapat dipahami. Perusahaan memiliki kinerja masa lalu yang konsisten dan juga memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan. Dasar inilah yang membuat Buffett tidak mau masuk ke Microsoft. Jika Anda tak memahami bisnis suatu perusahaan, Anda tak dapat membuat penilaian rasional terhadap nilai investasinya. Selain itu manajemen perusahaan harus memiliki tiga persyaratan, yaitu harus rasional, terbuka kepada pemegang saham, tidak meniru manajemen perusahaan lain dan harus mengalokasikan uang perusahaan ke investasi yang memiliki nilai tambah bagi pemegang saham.
2. Mengutamakan analisis fundamental perusahaan (bukannya analisis peramalan pasar).
Buffett akan membeli perusahaan yang tingkat pengembalian ekuitas (ROE) bagus, bukannya pendapatan per saham. Selisih laba mesti tinggi dan setiap dolar yang ditahan oleh perusahaan, perusahaan dapat menciptakan minimal sedolar nilai pasar perusahaan.
3. Kemampuan melawan arus.
Buffett hanya membeli saham jika harganya menarik. Maksudnya, adalah saat harga saham jatuh ke bawah harga wajar hasil analisis, dengan dasar perusahaan itu beroperasi terus dan sehat. Selisih harga pasar dan harga wajar ini berfungsi sebagai marjin aman (margin of safety), yang dapat mengurangi kerugian karena salah hitung. Marjin ini juga jadi salah satu sumber keuntungan jika saham kembali ke harga normal.
Berikut ini 24 kiat dari Warren Buffett dalam berinvestasi bukan dalam trading, yang diambil dari buku berjudul: "Sukses Berinvestasi Ala Buffett"
1. Pilihlah kesederhanaan, bukan kompleksitas.
2. Putuskan sendiri investasi anda.
3. Pertahankan temperamen yang tepat.
4. Bersabarlah.
5. Belilah bisnis, bukan saham.
6. Carilah perusahaan franchise.
7. Belilah perusahaan berteknologi rendah, bukan berteknologi tinggi.
8. Konsentrasikan investasi saham anda.
9. Terapkan ketidakatifan, bukan hiperaktivitas.
10. Jangan melihat ticker.
11. Lihatlah penurunan pasar sebagai peluang membeli.
12. Jangan mencoba memukul setiap lemparan bola yang datang.
13. Abaikan makro, fokuslah pada mikro.
14. Perhatikan baik-baik manajemennya.
15. Ingat, Sang Kaisar tidak pakai baju di Wall Street.
16. Berpikirlah independen.
17. Tetaplah berada dalam lingkaran kompentensi anda.
18. Abaikan ramalan pasar saham.
19. Pahami "Mr. Market" dan "Margin of Safety".
20. Takutlah saat orang lain tamak, dan tamaklah pada saat orang lain takut.
21. Baca, baca lagi, dan berpikirlah.
22. Gunakan segenap tenaga kuda yang anda miliki.
23. Hindari kesalahan mahal yang diperbuat orang lain.
24. Jadilah investor yang andal.
Ada sebuah kalimat penting yang diungkapkan oleh Buffet ”Saya jadi kaya bukan karena punya tambang atau kerja keras. Tapi semuanya itu karena saya lahir dengan ketrampilan yang benar dan bekerja di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula”.
REFERENSI
http://www.semuabisnis.com/categories/E%252dCommerce/


2 komentar:
tobbbeeee.
berat banget bahasannya...tapi kren2 koq..hehe
semangat!!!!!!!GBU
wah ...lu ngumpul tugas kewirahn lewat blog ini, ya?
smangat...
Poskan Komentar